Kinabalu : Saat ini tidak kurang dari 36.000 anak-anak Warga Negara Indonesia, umumnya TKI, merupakan anak-anak dalam usia sekolah.
Banyak di antara mereka memperoleh pendidikan yang dikelola oleh lembaga swadaya masyarakat di pusat-pusat pembelajaran di kebun-kebun kelapa sawit, antara lain oleh Yayasan Humana. Yayasan ini kini melayani sekitar 7.000 anak-anak usia sekolah.
Humana merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat milik asing, diketuai oleh Mr. Thurben. Pusat Belajar ini bukan sekolah formal, tidak mengikuti secara penuh kurikulum Indonesia, sehingga sulit untuk menentukan jenjang sekolah. Oleh karena itu anak-anak WNI masuk ke sekolah formal maupun non-formal dengan mengikuti kurikulum Indonesia.
Komitmen untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak WNI ditunjukkan melalui kesepakatan Presiden Republik Indonesia dan Perdana Menteri Malaysia, Wakil Presiden RI dan Wakil Perdana Menteri Malaysia, serta Menteri Pendidikan Nasional RI dengan Menteri Pelajaran Malaysia. Ketika berkunjung ke Kuala Lumpur pada 6-8 Juli 2008, Presiden RI dalam pertemuan KTT D 8 ke-6 menyatakan terima kasih dan penghargaan kepada Pemerintah Malaysia yang memberikan izin pendirian Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK).
Sebelum kesepakatan ini terealisasi, Depdiknas telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pelayanan kepada anak-anak yang mengikuti pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Humana, antara lain dengan mengirimkan tenaga guru, memberikan buku, dan alat pembelajaran.
Proses Belajar Mengajar di SIKK
Pada Desember 2008, Sekretaris Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Dr. Bambang Indriyanto bersama Acting Konjen Kinabalu Rudhito Widagdo membuka secara resmi dimulainya proses pembelajaran di SIKK. Lokasi yang ditempati yaitu gedung yang disewa di sebuah kawasan ruko alam yang representatif untuk pembagunan gedung sekolah.
Menurut Kepala SIKK Dadang, jumlah siswa yang aktif saat ini seluruhnya 274 orang. Selain itu, sekitar 237 orang sudah terdaftar, menunggu diikutsertakan dalam pendidikan formal. Dari 237 orang ini direncanakan 118 orang akan dimasukkan ke pendidikan formal. Sisanya, kata Dadang, harus menuggu tahun ajaran 2009/2010 untuk diseleksi kembali sesuai dengan kapasitas kelas yang ada. Sekarang sekolah sedang intensif memberikan tambahan waktu bagi mereka yang belum bisa baca-tulis dari kelas 1 sampai kelas 3. Untuk itu sekolah aktif mengundang orangtua, membina kerjasama dalam membantu anak-anaknya berupa pemberian perhatian yang lebih di rumah.
Kesulitan yang dihadapi, menurut Dadang, adalah sekolah belum memiliki kendaraan roda empat untuk operasional, baik untuk kegiatan rutin maupun mingguan shalat Jumat. “Kami sering pinjam mobil pada keluarga staf SIKK,” katanya. Kendaraan tersebut, tambah Dadang, juga akan digunakan untuk kegiatan-kegiatan SIKK di luar kelas. “Contohnya untuk olahraga maupun kunjungan ke daerah-daerah yang sudah melaksanakan pembelajaran untuk WNI yang ada di Sabah,” ucapnya. SIKK belum punya lapangan olahraga. Hal demikian sangat membantu guna menjadikan SIKK sebagai center point pendidikan WNI di Sabah, Malaysia.
Pemerintah melalui Depdiknas akan membeli tanah untuk pembangunan SIKK. Lokasi tanah sudah tersedia dan sedang dalam proses penyelesaian administrasi serta penentuan harga. Kerjasama yang intensif sedang digalang dengan Perwakilan Republik Indonesia Malaysia dan juga dengan Kementerian Pendidikan Malaysia.
Ditulis oleh sman21medan
Ditulis oleh sman21medan
Ditulis oleh sman21medan 




